Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru

Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru

Kasi-kabar.com– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyusun rekomendasi baru untuk meningkatkan perawatan bagi ibu hamil dan pascamelahirkan yang hidup dengan Penyakit Tidak Menular (PTM/Noncommunicable Diseases). Langkah ini diambil menyusul melonjaknya kasus komplikasi kehamilan yang dipicu oleh kondisi kronis di seluruh dunia.

Saat ini, semakin banyak kehamilan yang terdampak oleh PTM seperti diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), gangguan jantung, obesitas, dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya. Penyakit-penyakit ini bisa jadi sudah diidap sebelum kehamilan atau baru berkembang selama masa kehamilan.

PTM kini telah menjelma menjadi penyebab utama buruknya kondisi kesehatan perempuan usia produktif, sekaligus menjadi faktor kunci pemicu kesakitan (morbiditas) hingga kematian ibu saat hamil dan melahirkan.

Pergeseran Tren Kematian Ibu Penyakit Kronis Jadi Dalang Kedua

Dampak dari tren ini terasa sangat berat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Wilayah-wilayah tersebut tidak hanya mencatat angka kematian ibu tertinggi di dunia, tetapi juga menghadapi lonjakan kasus PTM sebagai pemicu buruknya kualitas kesehatan reproduksi.

Data global menunjukkan adanya pergeseran jelas pada penyebab kematian ibu. Sebagian besar kematian kini disebabkan oleh penyebab tidak langsung (indirect causes), yang erat kaitannya dengan PTM.

Saat ini, penyebab tidak langsung menyumbang sekitar 23% dari total kematian ibu di seluruh dunia. Angka ini menempatkan PTM sebagai penyebab kematian ibu terbesar kedua secara global setelah pendarahan (haemorrhage).

Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang bagi Ibu dan Bayi

PTM selama kehamilan laksana bom waktu yang mengancam dua nyawa sekaligus. Dalam jangka pendek, kondisi ini memicu berbagai komplikasi serius, antara lain

Preeklamsia (tekanan darah tinggi darurat saat hamil). Kelahiran prematur. Gangguan pertumbuhan janin (bayi lahir terlalu kecil atau terlalu besar/makrosomia). Meningkatnya risiko operasi sesar (Caesarean section).

Sebagai contoh, obesitas dan hipertensi saat hamil secara signifikan meningkatkan peluang terjadinya diabetes gestasional. Bayi yang lahir dari kondisi ini berisiko tinggi mengalami komplikasi hingga harus dirawat di ruang intensif neonatal (NICU).

Tak berhenti di situ, dampaknya terus berlanjut bahkan setelah bayi lahir. Ibu yang mengalami PTM saat hamil memiliki risiko lebih besar terkena penyakit kronis yang memburuk di kemudian hari, terutama penyakit kardiovaskular. Sementara itu, anak-anak mereka juga lebih rentan mengalami obesitas dan PTM saat beranjak dewasa.

Minimnya Dokter Spesialis Pada tahun 2025 lalu, WHO sebenarnya telah merilis set pedoman pertama yang berfokus pada penanganan anemia sel sabit (sickle cell anaemia) dan diabetes dalam kehamilan. Namun, tantangan besar muncul: bagaimana menerapkan rekomendasi rumit ini secara merata di lapangan?

Tantangan ini sangat terasa di negara berkembang (LMICs) yang kekurangan tenaga spesialis, seperti ahli fetomaternal (kedokteran maternal-fetal) atau ahli endokrinologi. Padahal, bagi banyak perempuan di negara berkembang, kunjungan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) adalah kontak pertama mereka dengan sistem layanan kesehatan.

Hingga saat ini, mengintegrasikan layanan PTM yang berkualitas ke dalam layanan kesehatan ibu masih menjadi pekerjaan rumah yang sulit bagi negara miskin maupun negara maju. Manajemen PTM sering kali terlewatkan dalam layanan kesehatan maternal standar.

WHO Gelar Pertemuan Ahli dan Buka Masukan Publik

Untuk menjembatani kesenjangan ini, WHO akan menggelar Pertemuan Ahli tentang Integrasi Perawatan PTM selama Kehamilan secara virtual pada 30 Juni 2026. Pertemuan tertutup (by invitation only) ini bertujuan memastikan bahwa panduan yang diturunkan oleh WHO bersifat praktis, dapat diterapkan, dan sesuai dengan realitas sistem kesehatan di berbagai negara.

Para ahli juga akan memberikan panduan strategis mengenai penyebaran dan implementasi pedoman klinis baru agar bisa menyatu dengan sistem yang sudah ada, demi menjaga kesinambungan perawatan sepanjang hayat (continuity of care).

Demi menjaga kredibilitas dan transparansi, WHO mengunggah biodata singkat para anggota kelompok ahli tersebut secara daring. Mereka juga diwajibkan menyerahkan formulir deklarasi bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest), baik secara akademis maupun finansial.

Meskipun proses internal yang ketat telah diterapkan, WHO tetap mengundang masyarakat luas untuk meninjau daftar para ahli dan pemangku kepentingan terlibat.

Jika publik menemukan adanya anggota yang memiliki benturan kepentingan signifikan dengan tugas ini, WHO membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima masukan dan kritik yang membangun. Tanggapan dapat dikirimkan melalui email resmi ke: srhmph@who.int.(*)

Sumber | who.int

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru
  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru
  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru
  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru
  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru
  • Ancaman Penyakit Tidak Menular pada Ibu Hamil Meningkat, WHO Godok Panduan Baru