Krisis Siswa Baru Guru SDN di Tulungagung Patungan Biaya PPDB
![]() |
| Aktivitas SDN di Tulungagung Bersama Murid Baru |
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah guru SD Negeri di Tulungagung. Mereka harus memutar otak dan menemukan cara yang tepat agar mendapatkan di tahun ajaran baru.
Terlebih bagi sekolah yang berada di wilayah pinggiran, mencari siswa bukan perkara yang gampang. Ketatnya persaingan antara sekolah negeri dan swasta menjadi salah satu permasalahan saat pelaksanaan SPMB. Para guru bahkan rela iuran untuk memberikan uang kepada orang tua calon siswa agar bersedia mendaftar di sekolahnya.
Salah seorang guru SD Negeri di Tulungagung berinisal S (38) bercerita sejumlah guru di sekolahnya rela iuran untuk mendapat siswa baru. Hal ini dikarenakan jika mereka tidak dapat siswa baru maka tunjangan sertifikat pendidik tidak akan cair selama satu tahun. Untuk tetap bisa mendapatkan tunjangan tersebut, mereka harus bisa mendapat siswa baru minimal satu orang saja.
"Kalau tahun lalu infonya minimal 3 siswa baru tunjangan serdik bisa cair, tahun ini satu siswa saja sudah bisa cair," tuturnya.
Berbagai cara dilakuka untuk mendapat siswa baru ini. Sejumlah guru yang menerima tunjangan serdik iuran untuk memberi uang ke orang tua calon siswa baru.
Bahkan beredar informasi di sebuah sekolahan kawasan selatan Tulungagung, orang tua calon siswa baru memperoleh batuan uang hingga Rp2 juta agar anaknya didaftarkan di sekolah tersebut. Tak hanya itu orang tua ini juga mendapat sebuah kompor gas
"Beredar informasi orang tuanya dapat Rp2 juta dan kompor gas, akhirnya sekolah itu mendapat siswa," tuturnya.
Langkah yang sama juga dilakukan oleh SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Para guru rela menyisihkan gaji mereka untuk memberikan fasilitas gratis kepada siswa baru.
Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariyah menerangkan siswa baru tidak mendapat bantuan berupa uang tunai.
Namun dalam bentuk keperluan sekolah seperti seragam dan perlengkapan lainnya seharga Rp450 ribu. Tak hanya itu siswa baru juga mendapat bantuan tabungan senilai Rp100 ribu. Bahkan ketika anak dari keluarga tidak mampu, guru juga memberikan uang saku.
"Jadi guru-guru ada iuran Rp200 ribu setiap bulan yang sifatnya tidak memaksa. Uang yang terkumpul juga diberikan kepada murid dan guru tidak tetap," jelasnya.
Meskipun SDN 2 Plandaan hanya mendapat dua siswa baru, namun mereka memastikan proses pembelajaran akan tetap berlangsung seperti biasa. Para guru berharap sekolah tersebut tidak digabungkan dengan lain dan tetap beroperasional.
"Kami tidak ingin dimarger. Harapan kami sekolah tetap berdiri dan terus mencari murid. Tapi kalau dinas pendidikan punya kebijakan, kami tidak bisa berbuat banyak," pungkasnya.(Jtm/Kk)
