Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi

Suasana di ponpes Al Karawi, Ganding, Sumenep. (Foto: RRI/Farida)

Di ujung Pulau Madura, tepatnya di Desa Karay, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, terdapat sebuah pesantren salaf yang telah bertahan selama 144 tahun. Pondok Karay tidak memiliki plang nama, banner, petunjuk jalan, maupun media sosial.

Meski demikian, pesantren ini tetap menjadi salah satu penjaga tradisi keilmuan Islam di Madura. Dan memiliki pengaruh, khususnya wilayah timur Sumenep. Metode pembelajaran kitab kuning masih dipertahankan, begitu pula tradisi sanad keilmuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberadaan Pondok Karay yang tetap eksis menunjukkan bahwa, pendidikan Islam tradisional Nusantara masih tetap hidup dan bertahan di tengah perkembangan zaman.

Babad Alas Pedalaman Karay (1790 M) Beberapa literatur menyebutkan bahwa sejarah Islam di kawasan Karay bermula sekitar tahun 1790 M, ketika Kiai Ali Karay mendirikan pengajian agama bagi masyarakat di pedalaman Ganding dan wilayah sekitarnya.

Dalam tradisi masyarakat Madura, Kiai Ali Karay dikenal sebagai tokoh yang berperan besar dalam proses islamisasi di kawasan tersebut. Pada masa itu, wilayah pedalaman Madura masih dipengaruhi oleh struktur sosial lokal dan budaya agraris yang kuat.

Atas peran dan jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam, masyarakat meyakini nama Kiai Ali Karay kemudian diabadikan menjadi nama desa. Wallahu a'lam.

Pondok Karay Berdiri Tahun 1882 Ketika pengaruh kolonial Belanda mulai merambah hingga ke pelosok Madura, termasuk Karay, kondisi sosial dan karakter masyarakat mengalami perubahan. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat masih belum memeluk Islam.

Dalam situasi tersebut, Kiai Muhammad Imam datang dan membawa dakwah dengan mendirikan sebuah pesantren sederhana pada tahun 1882 M. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan agama sekaligus sarana penyebaran Islam bagi masyarakat sekitar. Kiai Muhammad Imam yang merupakan santri awal Syaikhona Muhaammad Kholil ini berasal dari Desa Aeng Panas, Pragaan, Sumenep.

Berdasarkan catatan keluarga, Kiai Muhammad Imam putra Kiai Agung Mahmud, anak angkat Raden Tumenggung Tirtonegoro (Bindara Saod), suami Raden Ayu Tirtonegoro, Ratu ke-30 Keraton Sumenep. Sementara itu, Kiai Agung Mahmud tercatat menjadi menantu Kiai Agung Ahmad yang masih memiliki garis keturunan kepada Kanjeng Raden Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel.

Dakwah Lembut Kiai Muhammad Imam Perjuangan dakwah Kiai Muhammad Imam tidak berjalan mudah. Upaya beliau dalam memperbaiki kondisi sosial masyarakat dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kerap mendapat penolakan. Tidak sedikit yang mencemooh dan berusaha menghambat dakwah yang beliau lakukan.

Namun, dengan keteguhan dan pendekatan bijaksana, Kiai Muhammad Imam perlahan berhasil mengajak masyarakat menerima ajaran Islam. Seiring waktu, beliau dikenal sosok ulama yang dihormati dan menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai persoalan agama.

Selain sebagai penyebar Islam, Kiai Muhammad Imam juga dikenal sebagai sosok yang dituakan, tempat masyarakat meminta nasihat dan petuah dalam menjalani kehidupan.

Kitab Kuning dan Pondok Karay Sejak berdiri tahun 1882, Pondok Karay menjadi pusat pendidikan Islam bagi masyarakat Ganding dan sekitarnya. Berawal dari langgar dan asrama sederhana, pesantren ini kemudian berkembang dan memberi pengaruh besar bagi masyarakat wilayah Sumenep bagian timur.

Pondok Karay dikenal karena kuatnya tradisi pembelajaran kitab kuning. Para santri mempelajari ilmu alat, seperti nahwu dan sharaf, sebelum mendalami kitab-kitab tingkat lanjut. Tradisi ini tetap dipertahankan hingga sekarang.

Dalam perjalanannya, Pondok Karay melahirkan banyak alumni yang berkiprah sebagai guru agama, imam masjid, dan tokoh masyarakat di berbagai daerah. Melalui para alumninya, tradisi keilmuan Pondok Karay terus hidup dan menjadi bagian penting dari kultur pesantren di Madura.

41 Santri dan Kristalisasi Tauhid Sang Muassis Pondok Karay berasal dari nama desa tempat pesantren ini berdiri. Seiring waktu, nama tersebut berkembang menjadi Al-Karawi, sebuah nisbat yang merujuk pada Desa Karay sebagai tempat lahir dan berkembangnya pesantren.

Dalam catatan yang berkembang di lingkungan pesantren, pada masa kepemimpinan Kiai Muhammad Imam, jumlah santri disebut selalu berjumlah 41 orang, tidak pernah kurang maupun lebih. Salah satu santri beliau adalah Kiai Abi Syuja', pendiri Pondok Pesantren Tarate, Sumenep.

Kiai Muhammad Imam juga dikenal sebagai ulama yang produktif menulis karya. Salah satu karya yang terkenal adalah An-Nazmul Bahri fi Tauhid Al-Bari, sebuah kitab yang membahas sifat wajib, muhal, dan jaiz bagi Allah. Kitab tersebut ditulis ketika beliau berada di atas kapal dalam perjalanan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Karya ini menjadi rujukan bagi santri dan masyarakat Karay dalam mempelajari tauhid, dan memperkuat tradisi keilmuan Islam di lingkungan pesantren.

Kalender Mandiri Pondok Karay Setelah wafatnya Kiai Muhammad Imam tahun 1900 M, kepemimpinan Pondok Karay dilanjutkan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Pada masa ini, Pondok Karay mulai menerapkan penentuan awal bulan Hijriyah dengan metode hisab.

Metode hisab Kiai Ahmad Dahlan merujuk sejumlah kitab falak, antara lain Ad-Durūs al-Falakiyah karya Kiai Muhammad Maksum Ali, Al-Jawāhir an-Naqiyah fi al-A’māl al-Jaibiyah karya Syekh Ahmad Abdul Latif, dan Wasīlah ath-Thullāb karya Syekh Yahya bin Muhammad al-Maliki.

Hisab Pondok Karay dikenal memiliki metode perhitungan sederhana dan mudah dipelajari. Hisab ini disempurnakan masa Kiai Hammad dan terus digunakan hingga saat ini.

Bagi masyarakat Ganding dan sekitarnya, hisab Pondok Karay tidak hanya kajian ilmu falak, tetapi juga bagian dari tradisi keagamaan yang digunakan menentukan awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan hari besar Islam lainnya.

Penentu Musim Tanam Masyarakat Hingga kini, Pondok Karay mempertahankan penggunaan jam istiwa' atau jam bencet, sebuah alat penunjuk waktu yang menggunakan bayangan matahari untuk perhitungan.

Di lingkungan pesantren dan masjid, jam bencet digunakan untuk menentukan waktu salat, khususnya Dhuhur dan Asar, mengetahui waktu istiwa', serta membantu kalibrasi arah kiblat. Selain itu, alat ini juga dimanfaatkan untuk membaca perubahan musim dan pergerakan matahari.

Bagi masyarakat Karay dan sekitarnya, jam bencet bukan sekadar peninggalan tradisi ilmu falak. Hingga sekarang, alat ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk memperkirakan waktu yang tepat dalam memulai musim tanam di ladang dan sawah.

Masyayikh dan Pondok Salafiyah Karay Predikat pesantren salaf yang melekat pada Pondok Karay tidak terlepas dari konsistensinya dalam mempertahankan metode pembelajaran tradisional, seperti bandongan dan sorogan, serta kehidupan santri yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Di tengah berkembangnya pendidikan Islam modern, Pondok Karay tetap mempertahankan sistem salaf murni dengan fokus pada kajian kitab kuning dan pengkaderan ulama. Konsistensi inilah yang menjadikan Pondok Karay dikenal sebagai pesantren salaf tertua di Madura.

Secara berurutan, kepemimpinan Pondok Karay dimulai dari KH. Muhammad Imam, dilanjutkan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hammad Dahlan, dan KH. Bahij. Sekarang, diasuh oleh KH. Makmum, KH. Ahmad, KH. As'ad, KH. Muhammad, dan KH. Hammad yang merupakan dzurriyah Pondok Karay.

Tradisi 7 Fatihah Pondok Karay Sebagaimana disampaikan KH. Musleh Adnan, pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Ta’limiyah Pamekasan, salah satu tradisi yang masih dijaga di Pondok Karay adalah menghadiahkan Al-Fatihah kepada 7 orang.

Tujuh orang tersebut adalah kedua orang tua, dua orang tua dari pihak ayah, dua orang tua dari pihak ibu, serta guru ngaji. Setelah itu, membaca surah Fatihah 14 kali sebagai bentuk doa, penghormatan, dan ungkapan terima kasih kepada mereka yang berjasa dalam hidup dan keilmuan.

Wa akhiran, mengenal Pondok Karay seakan mengajak kita memasuki ruang yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Pondok Karay mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kemegahan, melainkan hati yang dekat dengan Allah.

Sebab, sejauh apa pun manusia melangkah, jalan pulang terbaik tetaplah kembali kepada-Nya. Dan nilai itu, hingga hari ini, masih terjaga di Pondok Karay.(H. R. Umar Faruq)

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
  • Pesantren Al-Karawi Pondok Salaf Tertua Bediri Pada Tahun 1882 Masehi
Gambar Banner
Gambar Banner