Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"

Ketua IJTI Korda Madura Raya, Veros Afif - Jurnalis TV ONE  

Mengutip tulisan Mas Veros Afif  - Ketua IJTI Korda Madura Raya,

Dunia pers kita hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di tengah menjamurnya peredaran rokok ilegal di Madura, kita tidak hanya menyaksikan perang cukai dan kejar-kejaran aparat, tetapi juga lahirnya sebuah "komunitas jurnalisme" baru yang mengerikan.

Veros Afif menyebutnya dengan sangat sarkas: Jurnalisme "Katanya." Ini adalah sebuah ilmu investigasi baru yang lahir tanpa data, dan celakanya, dipraktikkan tanpa rasa malu.

Jauh panggang dari api jika kita membandingkannya dengan liputan investigasi mendalam ala Tempo atau Kompas. Jurnalisme model baru ini lebih mirip permainan sambung kata di lingkaran anak-anak. Bedanya, yang disambung di sini adalah bisik-bisik tetangga, gosip warung kopi, kabarnya, dan—tentu saja katanya.

"Katanya di desa ini ada pabrik rokok ilegal. Katanya pemiliknya dekat dengan orang besar. Katanya dia jualan pita cukai, katanya Bea Cukai tidak tegas."

Pengusaha Kecil, Sasaran Besar

Nama medianya biasanya asing di telinga, alamat redaksinya pun berubah-ubah bak siluman. Namun, jangan tanya soal kartu pers; milik mereka selalu baru dan mengilat karena dicetak sendiri secara mandiri.

Target operasi mereka sudah jelas: Pengusaha kecil di desa terpencil.

Pabrik rokok lokal yang sedang merintis usaha menjadi sasaran utama. Bukan karena para wartawan ini mengantongi data pelanggaran yang valid, melainkan karena para pengusaha kecil ini dinilai paling mudah diintimidasi.

Dengan mobil pinjaman dan kamera yang mungkin hasil "pemberian" pejabat yang ketakutan, mereka datang dan menggertak: “Kami dari media investigatif, kami dapat info Bapak memproduksi rokok ilegal dan jualan pita cukai.”

Lalu, meluncurlah kalimat pamungkas yang menjadi ruh dari gerakan mereka.

“Kami bisa bantu supaya berita ini nggak naik lagi, asal ada itikad baik.”

Dalam kamus jurnalisme "Katanya", frasa "itikad baik" mengalami degradasi makna yang luar biasa. Ia menjelma menjadi sejumlah uang tunai, rokok satu dus, atau minimal pulsa 300 ribu rupiah. Tanpa bukti kuat, bermodal gertakan, sebuah narasi bisa dinegosiasikan.

Judul Bombastis, Isi Minimalis

Jika negosiasi buntu, berita pun tayang. Model tulisannya sangat mudah ditebak: judulnya bombastis, isinya minimalis. Kalimat pembukanya selalu diawali dengan “Menurut informasi yang beredar...” dan paragraf terakhirnya ditutup dengan kalimat sakti pembelaan diri: “Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum bisa dikonfirmasi.”

Faktanya? Mereka memang tidak pernah berniat melakukan konfirmasi.

Berita-berita ini kemudian diunggah di blog-blog gratisan dengan domain yang sulit dipercaya. Isinya pun bukan hasil keringat turun ke lapangan, melainkan sekadar copy-paste dari grup WhatsApp.

Ironisnya, beberapa di antara mereka akhirnya ditangkap polisi. Namun, perlu dicatat, mereka ditangkap bukan karena keberanian membongkar skandal besar, melainkan karena nekat memeras tanpa data.

Kita tentu ingat kasus di Jawa Tengah belum lama ini. Seorang oknum wartawan online diciduk saat memeras pabrik tembakau lokal. Modusnya klasik: ancam naikkan berita jelek, lalu minta uang damai. Sial bagi si oknum, pemilik pabrik kebetulan adalah adik seorang polisi. Jebakan pun dipasang, dan rontoklah kedok sang "wartawan investigasi" yang bahkan saat konferensi pers tidak mampu menunjukkan alamat redaksi dan siapa penanggung jawab medianya.

Wartawan "Katanya" tidak pernah dibekali pelatihan jurnalistik formal. Mereka bergerak hanya bermodal lisensi abal-abal dari lembaga pelatihan fiktif. Maka jangan heran jika produk tulisannya dipenuhi salah ketik yang akut.

“Masyarakt mengeluhkan prabrik rokok ilegal yang mengeluarkan bau tengik dan mencemari linkungan.”

Dalam dunia jurnalistik yang waras, satu kesalahan fatal bisa meruntuhkan kredibilitas. Namun bagi mereka, kesalahan ejaan justru dianggap sebagai "gaya bahasa" spontan—bukti autentik bahwa tulisan mereka orisinal dan tidak disunting menggunakan AI atau ChatGPT.

Lebih parah lagi, ketika ditanya soal data dan bukti, mereka akan berang dan balik menuduh: “Kamu bela pengusaha ya? Kamu dibayar berapa?”

Bagi mereka, etika jurnalistik adalah konspirasi media mapan untuk menekan wartawan akar rumput. Padahal, wartawan yang benar justru lebih banyak bekerja dalam sunyi—melakukan riset, mengumpulkan dokumen, dan memverifikasi—bukan teriak-teriak menuding tanpa dasar.

Melawan fenomena ini tidak melulu harus dengan urat tegang. Menghadapi keabsuran liputan mereka sebenarnya bisa dilawan dengan senjata yang sama

Jika mereka menulis: “Katanya ada pabrik rokok ilegal di balik rumah Pak RT,” maka media yang waras berhak membalas dengan narasi tandingan: “Katanya wartawan itu melihat pabrik dari mimpi semalam,” atau “Menurut sumber yang tak mau disebut namanya karena memang tidak ada, pabrik rokok tersebut sebenarnya hanyalah kandang ayam.”

Jurnalisme sejati bukan soal siapa yang paling cepat menyebarkan desas-desus, melainkan tentang siapa yang paling presisi menyampaikan kebenaran. Wartawan sejati adalah mereka yang menyalakan cahaya di dalam ruangan yang gelap, bukan mereka yang melempar api di ladang yang kering.

Wartawan "Katanya" sebenarnya adalah sebuah gejala. Gejala dari ekosistem informasi kita yang mulai lemah, minim verifikasi, dan terlalu mudah percaya pada narasi tanpa bentuk. Saat masyarakat membaca berita tanpa mau bertanya "mana buktinya?", saat itulah jurnalisme katanya akan terus merajalela.

Hari ini, pers kita dihadapkan pada dua pilihan yang sangat ekstrem: Pers yang hadir sebagai profesi mulia yang mengedukasi dan dibutuhkan masyarakat, atau pers yang kerjanya menakut-nakuti dan mengintimidasi rakyat dengan modal berita "KATANYA"?


Sumber | madura.viva.co.id

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"
  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"
  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"
  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"
  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"
  •  Menolak Tunduk pada Jurnalisme "Katanya" dan Suburnya Wartawan "Menodong"