Seminggu Pelaksanaan MBG di Ngawi, Harga Telur dan Ayam Sayur Mulai Meroket
Ngawi - Harga telur dan daging ayam di pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melonjak setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan dalam seminggu terakhir.
Namun, naiknya harga telur dan daging ayam dikeluhkan pedagang dan pembeli di pasar Kabupaten Ngawi.
Astutik, salah satu pedagang di Pasar Besar Ngawi, menyatakan bahwa kenaikkan harga daging ayam dan telur mulai terjadi pertengahan Juli 2026. Harga telur yang sebelumnya Rp 20.000 perkilogram naik menjadi Rp 27.000 perkilogram.
"Kalau harga daging ayam potong melonjak dari Rp 26.000 menjadi Rp 35.000 per kilogram,” ujar Astutik, Selasa (22/7/2026).
Astutik memprediksi harga telur dan daging ayam potong akan naik terus setelah program MBG berjalan kembali. Terlebih, pedagang pasar dan pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) mendapatkan pasokan dari distributor yang sama.
"Harga ini tergantung pada supplier. SPPG juga mengambil di supplier yang sama. Kalau harga dari supplier naik, maka kami juga ikut terdampak,” katanya. Agar harga stabil, menurut Astutik, semestinya SPPG membeli di pedagang eceran di pasar.
Hanya saja hal itu harus didukung dengan kebijakan pemerintah agar SPPG tak lagi membeli di supplier. Dengan demikian, dia menyebut, keberadaan SPPG dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memberdayakan UMKM.
Kenaikan harga telur dan ayam juga disampaikan beberapa konsumen di pasar tradisional. Salah satunya Maryanti, warga Kota Ngawi. Kenaikkan harga berbagai bahan makanan menjadikan pengeluaran rumah tangga membengkak.
"Kalau harga mulai naik begini, kami sangat susah. Apa-apa jadi mahal. Padahal sekarang ekonomi lagi sulit,” ujar Maryanti.
Maryanti merasakan kenaikkan harga berbagai bahan makanan terjadi setelah program MBG kembali berjalan. Pasalnya, saat libur sekolah, harga bahan pokok makanan turun drastis. “Setelah MBG ini jalan, harga bahan makanan ikut-ikutan jalan naik,” katanya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah membuat aturan agar SPPG tak lagi mengambil barang di suplier. Sebab, jika hal itu terjadi terus menerus maka barang kebutuhan pokok akan cepat habis di tingkat supplier. Akibatnya, barang yang terjual di pasar terbatas hingga mengakibatkan harga terus naik.(*)
