Suku Bunga Ditahan, Defisit APBN Membengkak: Ada Apa dengan Rupiah Hari Ini?
| Foto Uang Seratus Ribu Rupiah. Google |
NILAI tukar rupiah di pasar spot domestik melemah ke level Rp 17.917 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu, 22 Juli 2026. Sementara itu kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ditutup di level Rp 17.909 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakah pergerakan nilai tukar salah satunya dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
“BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas,” katanya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 22 Juli 2026.
Faktor lainnya adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang membukukan defisit Rp 196,5 triliun pada akhir Juni 2026.
Adapun pendapatan negara tercatat sebesar Rp 1.459,54 triliun atau 46,3 persen dari target. Sedangkan belanja negara mencapai Rp 3.842,7 triliun atau 43,1 persen dari target. Artinya, kata Ibrahim, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.
Sementara itu dari sisi global, pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran. Menurut Ibrahim, perkembangan konflik terkini menimbulkan kekhawatiran terhadap ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
“Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.
Sumber | Tempo