JEMBER – Kabupaten Jember, Jawa Timur, seolah tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan para pencinta alam. Salah satu destinasi unggulan yang terus menjadi magnet wisatawan adalah Pantai Papuma. Nama "Papuma" sendiri sebenarnya merupakan sebuah akronim dari Pasir Putih Malikan, sebuah nama yang merujuk langsung pada hamparan pasir putih bersih dan bebatuan khas yang menjadi ikon utama pantai ini.
Namun, di balik lanskapnya yang megah dengan gugusan karang yang memecah ombak Pantai Selatan, Papuma menyimpan lembaran sejarah dan transformasi yang belum banyak diketahui publik.
Sebelum menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Jawa Timur seperti sekarang, kawasan Pantai Papuma memiliki wajah yang sangat berbeda. Dulunya, area ini merupakan kawasan hutan produksi yang rimbun dan dikelola penuh oleh Perhutani.
"Masyarakat sekitar dulu lebih mengenal tempat ini sebagai lokasi berburu ikan dan hasil laut, bukan sebagai tempat rekreasi," ungkap penelusuran sejarah lokal kawasan tersebut.
Akses menuju pantai pada masa lalu terbilang sangat sulit, ekstrem, dan terbatas. Hanya nelayan tangguh dan warga lokal yang berani menembus rapatnya vegetasi hutan demi menjemput rezeki di lautan. Namun seiring berjalannya waktu, potensi keindahan alamnya yang luar biasa membuat kawasan ini dibuka untuk umum, mengubah wajah hutan produksi menjadi surga dunia bagi para pelancong.
Meskipun menawarkan pemandangan kelas dunia, Pantai Papuma tetap menjadi destinasi yang sangat merakyat dan mudah dijangkau. Jaraknya yang relatif dekat dari pusat kota membuat pantai ini ideal untuk liburan singkat di akhir pekan.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan santai berkendara dari arah pusat Kota Jember. Jalanan yang sudah jauh lebih baik memudahkan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mencapainya.
Selain akses yang mudah, daya tarik utama Pantai Papuma saat ini adalah biayanya yang sangat terjangkau bagi semua kalangan. Hal ini diakui langsung oleh salah satu pengunjung setempat.
"Untuk masuk ke Pantai Papuma ini sebenarnya tidak dipungut biaya tiket masuk yang mahal, kita hanya perlu membayar biaya penitipan sepeda motor saja. Sangat ramah di kantong," ujar Diana, seorang pengunjung yang datang menikmati panorama Papuma.
