![]() |
| Doc Dewan Pendidikan Kab. Sumenep / Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Moh. Iksan |
Kegiatan yang berfokus pada penguatan kapasitas intelektual pendidik ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan.
Ketua DPKS, Mulyadi, menegaskan bahwa guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun tradisi intelektual di tengah masyarakat. Melalui pelatihan ini, pihaknya membidik lahirnya para pelopor kepenulisan di tingkat akar rumput.
“Kami berharap nantinya guru-guru di masing-masing kecamatan menjadi penggerak kepenulisan. Mereka bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga mampu mendokumentasikan gagasan, pengalaman, dan inovasi pembelajaran melalui tulisan,” ujar Mulyadi di sela-sela acara.
Mulyadi menggarisbawahi bahwa tradisi menulis merupakan indikator kemajuan sebuah peradaban. Tanpa adanya dokumentasi tertulis, ide dan pengetahuan yang berharga akan mudah hilang ditelan waktu.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi bila tidak menulis maka akan ditelan sejarah,” tegasnya, mengutip salah satu refleksi pentingnya warisan intelektual bagi generasi mendatang.
Di lokasi yang sama, Kepala Disdik Sumenep, Moh. Iksan, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang diambil oleh DPKS. Menurutnya, program ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan kompetensi profesional guru serta penunjang mutu ekosistem pendidikan berbasis literasi di sekolah.
“Kegiatan ini sangat menunjang bagi guru di sekolah. Kami berterima kasih kepada DPKS yang terus memikirkan kemajuan pendidikan di Kabupaten Sumenep,” kata Iksan.
Guna memastikan keberlanjutan program, Iksan meminta DPKS untuk tidak berhenti pada seremonial pelatihan saja, melainkan terus mengawal, mendampingi, dan memotivasi para pendidik agar konsisten menelurkan karya tulis ilmiah yang produktif.
Melalui pelatihan ini, arah pembangunan pendidikan di Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya bahwa peningkatan mutu tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, melainkan pada investasi jangka panjang berupa penguatan kapasitas literasi dan tradisi berpikir kritis para tenaga pendidiknya.(Red)
