![]() |
| Kereta api B5007 di Mlilir (4 oktober 1980) |
Menjelajahi sepanjang 201 kilometer bekas jalur rel dari ujung barat Bangkalan hingga ujung timur Sumenep, kita akan menemukan sebuah kisah tentang kejayaan, tragedi perang, hingga secercah harapan tentang kebangkitan transportasi massal ini.
Kisah besi terbang di Madura dimulai pada akhir abad ke-19. Perusahaan swasta Belanda, Madoera Stoomtram, mulai mengoperasikan jalur kereta api di pulau ini sejak tahun 1897.
Pembangunan terus masif dilakukan. Pada tahun 1913, setelah rampungnya jalur melalui Sukolilo, konektivitas Madura terkunci dari ujung ke ujung.
Stasiun Kamal (Bangkalan) Menjadi gerbang utama di ujung barat.
Stasiun Kalianget (Sumenep) Menjadi stasiun pamungkas di ujung timur.
Stasiun Kwanyar Berperan vital sebagai stasiun cabang yang mengatur lalu lintas kereta.
Hebatnya, Madoera Stoomtram tidak berjalan sendiri. Mereka bekerja sama dengan perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, untuk menciptakan sistem transportasi antarmoda yang canggih pada zamannya.
Pengguna kereta api tidak hanya menikmati perjalanan darat, tetapi juga terkoneksi langsung dengan layanan kapal feri rute Kamal Surabaya dan Kalianget Panarukan.
Badai sejarah menerpa jalur ini saat Perang Dunia II berkecamuk. Berdasarkan Buku Jarak yang diterbitkan oleh Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950, sebuah fakta pilu terungkap jalur Pamekasan Kalianget lenyap dari catatan.
"Jalur kereta api ruas Pamekasan dan Kalianget dibongkar paksa oleh tentara penduduk Jepang. Besi-besi relnya dijarah dan diangkut untuk kepentingan mesin perang mereka."
Tidak hanya pembongkaran, tata ruang jalur pun berubah total akibat militerisasi. Angkatan Laut Jepang (Kaigun) menjadikan kawasan Batuporon yang semula dilintasi jalur Kamal Sukolilo sebagai kawasan militer tertutup.
Akibatnya, jalur lama Kamal Sukolilo Kwanyar ditutup. Sebagai gantinya, Jepang membangun jalur percabangan baru dari Stasiun Telang menuju Stasiun Sukolilo Baru agar kereta dari arah Kamal bisa langsung melesat menuju Pamekasan tanpa mengganggu kawasan militer.
Setelah Indonesia merdeka, jalur ini sempat bertahan di bawah pengelolaan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Namun, memasuki era modern, pamor kereta api di Madura mulai meredup.
Kehadiran kendaraan pribadi, truk logistik, dan angkutan umum yang lebih fleksibel membuat kereta api kehilangan taringnya. Kalah bersaing dan terus merugi, PJKA akhirnya mengambil keputusan pahit menonaktifkan seluruh jalur kereta api di Madura mulai Februari 1988. Sejak saat itu, rel-rel di Madura mulai berkarat, tertimbun tanah, dan stasiun stasiunnya berubah fungsi menjadi saksi bisu yang kesepian.(Bersambung)
